Langsung ke konten utama

Pengertian dan maksud Islam Nusantara

 Islamisasi Di bumi Nusantara


Sebelum kami menulis, izinkan kami menyampaikan beberapa tulisan yang memang ini sudah dikatakan kuno atau tidak enak lagi dibahas.

namun, melihat beberapa pemahaman masyarakat awam dan bahkan beberapa kalangan pemegang kekuatan saecara politik pun juga sebenarnya mereka cenderung kurang paham sehingga tak sedikit persepsi negatif mengenai islam Nusantara.

mari simak secara seksama dengan niat ikhlas ingin mengetahui tentang latar belakang Islam Nusantara itu muncul.


beberapa sejarah telah mencatat bahwa Indonesia adalah negara yang beranekaragam mulai dari ras, agama,  budaya maupun hal-hal lainnya. semua itu diyakini karena pendantang yang dari beberapa negara yang masuk kedalam negeri ini seperti ; India, Portugis, Tiongkok, Arab, belanda  dan yang lainnya. beberapa keyakinan yang mereka bawa disambut secara Harmonis oleh penduduk Nusantara  pun juga termasuk beberapa saudagar Muslim yang bersinggah  saat itu.

sejarah mencatat bahwa sebelum agama islam masuk, Agama Hindu dan Budhalah yang dominan menguasi dalam hal spiritual sekitar Abad ke-2  dan ke-4 Masehi ketika rombongan pedagang dari India datang di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. 

kepesatan agama Hindu dipulau Jawa terlihat jelas pada abad ke-5 masehi dengan Kasta Brahmana dengan memuja Dewa Siwa yang semua  itu dibawa oleh pedagang India hingga beberapa kerajaan pun ikut terpengaruhi seperti Kutai, Sriwijaya, Majapahit, dan Syailendra.

kita ketahui bersama bahwa candi Borobudur yang merupakan Candi terbesar di dunia bahkan pernah menjadi icon keajaiban dunia dibangun dipulau Jawa tepatnya di daerah Magelang  yang diprakarsai oleh kerajaan Syailendra, dan diwaktu yang sama pun dari Hindu membuat Candi Prambanan yang tepatnya di  Yogyakarta. dari situlah puncak kejayaan Hindu Budha terbangun dan juga dibeberapa kerajaan seperti Majapahit diabad ke-14 M yang terkenal dengan istilah puncak keemasan dalam sejarah indonesia.

Setelah Hindu-Budha masuk dan semakin berkembang diabad ke-14  agama Islampun mulai masuk.

beberapa referensi dan teori menyebutkan semua berawal dari Gujarat-India, dan islam menyebar sampai ke pantai barat Sumatera dan berkembang ketimur pulau Jawa. 

hal itu bisa dilihat dari duapuluh kerajaan lebih diabad ke-15 seperti; kerajaan Demak, Pajang, Mataram, dan Banten.  

beberapa teori sejarah masuknya islam dan pembawanya ke Nusantara memang memiliki versi masing-masing sehingga muncullah : teori Arab(Timur Tengah), Teori China, Theori Gujarat (India), Teori Persia, dan Teori Maritim.

Dari beberapa teori  itulah yang paling popular adalah teori Maritim dimana disitu dijelaskan bahwa islam masuk dan disebarluaskan melalui pergerakan didalam pelayaran.

Mereka kemudian memperkenalkan islam  lebih dekat saat bersinggah dikawasan Nusantara dijalur perniagaan. Hal itu terjadi pada kurun waktu Abad ke-7 dari Aceh sampai melebar luas.

Saat itu Indonesia masih majemuk, dimana saat islam datang terdapat keanekaragaman baik secara suku bangsa, struktur ekonomis, organisasi kepemerintahan serta sosial budaya  itu sendiri. 

Tampak jelas statis struktur ekonomi , sosial dan budaya dibandingkan dengan suku bangsa yang mendiami daerah pesisir. Mereka yang lebih berdiam di pesisir, seperti di Pelabuhan contohnya menunjukkan beberapa cirri khusus secara fisik dan sosial budaya yang lebih dominan kaarena percampuran dari budaya luar.


Selanjutnya dijelaskan lagi oleh sejarawan Agus Sunyoto (2015), yang mengatakan teori islam datang dari Thiongkok . jika dalam proses penelusuran islamisasi di Nusantara, maka akan ada satu fakta yang ditemukan bahwa dalam kurun waktu 800 tahun islam belum bisa diterima oleh penduduk pribumi, dan saat itu islam masih dipeluk oleh para pendatang (Non pribumi).

Sejarawan itu berkiblat pada referensi  catatan utusan dinasti Tang dikerajaan Kalingga pada 674 Masehi bahwa Sudah ada Saudagar dari Timur Tengah yang datang ke Jawa. Dan saat itu, belum ditemukan lagi sumber yang mengatakan bahwa Islam diterima di Pribumi secara missal pada taun 1292 sebelum kerajaan Majapahit.

Pun juga diperkuat bahwa Marcopolo seketika pulang dari Tiongkok yang melewati, menepi dan bersinggah di lautan perak, Aceh. Marcopolo mencatat penduduk yang ada disekitar, tepatnya di Selat malaka Aceh Bagian Timur yang berpenduduk etnis Thionghoa, dan semuanya beragama Islam.

Tepatnya setelah 100 tahun kemudian , Cheng Ho datang ke Nusantara saat ituDinasti Yuan pindah ke Dinasti Ming (1405), kerajaan mahapahit dibawah pimpinan Wiramawardhana saat itu ditulis oleh Cheng Ho. Dan selanjutnya bersinggah ke daerah Tuban, yakni Pelabuhan besar milik Majapahit dan asiknya lagi semuanya beragama Muslim.

Perjalan selanjutnya Chengho, bergerak ke arah pelabuhan Gresik, dan ternyata terdapat 1.000 keluarga Thionghoa yang semuanya adalah Islam juga. Selanjutnya juga didaerah Surabaya ada seribuan Thionghoa yang beragama Muslim.

Cheng Ho berkunjung ke Jawa sampai tujuh kali tepatnya pada tahun 1405 M, dan berakhir dikunjungannya yang terakhir pada tahun 1433 M. Cheng Ho tidak sendirian, dia mengajak seorang jurnalis bernama Ma Huan.  Dalam catatan Ma Huan, didalam kota-kota Pelabuhan bagian Pantai Utara Jawa dihuni oleh tiga kelompok masyarakat.

Pertama, etnis Thionghoa yang semuanya adalah muslim.

Kedua, dari bangsa Arab dan Persia yang semuanya juga Muslim.

Dan yang ketiga adalah, Penduduk pribumi itu sendiri.

Dalam catatannya, bahwa Semua penduduk pribumi sepanjang pantai utara jawa masih belum mengenal agama islam.

Kemajemukan dan versi itulah yang semakin hari semakin berkembang.

Dan didalam perkembangannya Indonesia menggunakan bahasa Islam Nusantara karena melihat secara geografis maupun historis.

Agar Islam mampu diterima dimana-mana, sesuai dengan visi misi Rosulullah SAW.

Pemaknaan islam Nusantara bukan perihal membedakan islam wilayah A atau B.

Tapi lebih ke nilai dakwah.

Jadi harus benar benar paham agar tidak berujung saling menyalahkan.

Mari Menebarkan Islam Rohmatallilalamin dan mensiarkan agama sesuai dengan keadaan masyarakat agar bisa hidup tenang dan damai di dalam Negara Kesatuan  Republik Indonesia.


Penulis, Muhammad Ari Siswanto

Referensi,

Media Nahdlatul ulama

Agus Sunyoto

NU Online

Dawuh sang kyai



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Pondok Pesantren Al Arifiyah

Pondok Pesantren Salaf Tahfidzul Qur’an Al-Arifiyah Kota Pekalongan Pondok Pesantren Salaf Tahfidzul Qur’an Al-Arifiyah adalah salah satu pesantren yang ditinjau dari kelembagaannya termasuk Pondok Pesantren Salaf dengan madzhab Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Sebagaimana Pondok Pesantren yang lain, peran yang dijalankan adalah sebagai lembaga dakwah, pendidikan, dan perjuangan, sekaligus sebagai agen perubahan sosial masyarakat, khususnya bagi masyarakat desa lokasi Pondok Pesantren tersebut berada. Pondok Pesantren yang berjarak 3 km ke arah timur dari pusat Pemerintahan Kota dan 5 km ke arah barat dari terminal bus pekalongan ini berlokasi di Desa Blarakan, Kelurahan Kebulen, Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan ini didirikan oleh KH. Zaenal Arifin pada tahun 1984. Awalnya ada 9 orang yang datang untuk belajar mengaji Al-Qur’an dan kitab kuning kepada KH. Zaenal Arifin, karena belum dibangun kamar-kamar akhirnya mereka tidur di rumah bersama keluarga kyai. semakin...

TEKA TEKI ISRA’ MI’RAJ NABI MUHAMMAD SAW

TEKA TEKI ISRA’ MI’RAJ NABI MUHAMMAD SAW Fatkhuri eL Sobri Peristiwa Isra’ Mi’roj memunculkan teka teki dari ulama dan ilmuan, Rosulullah SAW telah diperjalankan untuk menempuh jarak yang luar bisa jauhnya, sampai detik ini tidak diketahui oleh ilmuan manapun mengenai jarak yang sebenarnya. Rosulullah telah menembus batas-batas materi alam semesta yang menurut catatan berjarak 13,7 miliyard tahun cahaya. Peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan suatu mukjizat yang sangat luar biasa tentunya dianugrahkan kepada Mahluk luar biasa (Muhammad SAW), sebagai tantangan bagi manusia, disodorkan oleh Allah SWT setelah AL-Qur’an. Peristiwa mu’jizat tidak sama dengan ilmu pengetahuan hasil olahan manusia, karena antara ilmu pengetahuan dan mu’jizat itu bukan tandingan. Ilmu pengetahuan apapun jenisnya masih tetap berpijak kepada hukum akal dan hukum alam, sementara mu’jizat berada diluar itu. Berbagai macam penafsiran telah dilakukan oleh ulama dan ilmuan dan berbagai penjelasan ilmiah sci...