TEKA
TEKI ISRA’ MI’RAJ NABI MUHAMMAD SAW
Fatkhuri
eL Sobri
Peristiwa
Isra’ Mi’roj memunculkan teka teki dari ulama dan ilmuan, Rosulullah SAW telah
diperjalankan untuk menempuh jarak yang luar bisa jauhnya, sampai detik ini
tidak diketahui oleh ilmuan manapun mengenai jarak yang sebenarnya. Rosulullah
telah menembus batas-batas materi alam semesta yang menurut catatan berjarak
13,7 miliyard tahun cahaya. Peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan suatu mukjizat
yang sangat luar biasa tentunya dianugrahkan kepada Mahluk luar biasa (Muhammad
SAW), sebagai tantangan bagi manusia, disodorkan oleh Allah SWT setelah
AL-Qur’an. Peristiwa mu’jizat tidak sama dengan ilmu pengetahuan hasil olahan
manusia, karena antara ilmu pengetahuan dan mu’jizat itu bukan tandingan. Ilmu
pengetahuan apapun jenisnya masih tetap berpijak kepada hukum akal dan hukum
alam, sementara mu’jizat berada diluar itu.
Berbagai
macam penafsiran telah dilakukan oleh ulama dan ilmuan dan berbagai penjelasan
ilmiah scientific telah diupayakan untuk memecahkan teka teki dibalik
peristiwa ini, bahkan banyak di antara kita menyatakan bahwa peristiwa ini
harus dilihat dengan keimanan sebagai mu’jizat (al-Ghaity, 2000).
Salah
satunya Teori The Zero Kelvin: Kolaborasi Einstein dan Nath Bose berkolaborasi
menemukan hukum Bose Einstein Condensate. Saat sebuah benda didinginkan
mendekati nol mutlak, atau nol derajat Kelvin alias -273.16 C, maka momentumnya
akan mendekati nol, alias benda dan bahkan atom-atom didalamnya tidak akan
bergerak sama sekali (Hidayat Lesie, 2007). Dalam ilmu Fisika diketahui bahwa
tidak ada suhu labih rendah dari nol mutlak atau nol derajat Kelvin. Tiga puluh
lima tahun setelahnya, hipotesa tadi dibuktikan di Universitas Colorado.
Bahan yang didinginkan menciptakan bentuk yang sama sekali baru, bukan gas,
bukan cair, padat maupun plasma. The New State of Matter, dimana seluruh
partikel (atom-atom) seolah bertumpuk dan berlaku sebagai sebuah partikel
(atom) saja, akibat frekwensinya mengecil, sedangkan panjang gelombangnya
(lambda) menjadi sangat panjang, limit menuju tak terhingga (Lesie,2007).
Dengan
pandangan Bose-Enstein Condentation ini, maka tentunya hal ini dapat
dijawab, seperti penumpakan yang ada dimana-mana menjadi wajar. Jika Nabi
“didinginkan” atau dikosongkan (nol) (energi pembangkangan/ego di nolkan, alais
kesadaran yang pasrah-total secara total atas kehendak-Nya, sehingga
vibrasi kesedaran bergetar cepat menuju tak hingga dan melembut (latief),
maka panjang gelombang menjadi mendekati tak terhingga, sehingga bisa muncul
dimanapun dalam ruang-waktu. Pada kondisi ini secara otomatis atom-atom tubuh
dalam dimensi fisik yang lebih sekunder, akan diam mutlak serta berada pada
kondisi Bose Enstein Condestate. Mari kita bayangkan kondisi dan posisi super-eksis
ini, yaitu seseorang yang tubuhnya diam dalam konteks ”kawasan” (dalam dimensi
positif/materi), namun dalam konteks “wawasan” kesadarnnya melambung ke wilayah
sepiritual (jauh melewati kecepatan cahaya dalam dimensi kesadarn/hyperspace).
Layaknya orang yang tengaah bertafakur, berdzikir, berkontlemplasi, atau
meditasi. Perbedaan mutlak adalah faktor penggagas, yaitu apakah kehendak
sendiri (free-will) yang dibatasi oleh hukum kasualitas, dan
kehendak-Nya yang tidak dibatasi apapun. Nabi Muhammad SAW pada saat Isra’
Mi’raj mungkin menjadi contoh, bagaimana kondisi Super-Existence
dicapai. Pada saat itu bahkan apa yang disebut sebagi keberadaan wujud-materi/jasad
tubuh pun menjadi tidak relevan dibicarakan. Sebab wujud yang ada adalah “wujud-super”
yang bisa bergerak menembus hukum-hukum kasualitas umum (hukum adat),
seperti gravitasi umpanya, dan bukan sekedar tampilan wujud materi yang kita
kenali secara umum, atau istilahnya The New State of Matter yang
bersifat super-fluidal.
Kaum
Empiris dan Rasionalis, yang melepaskan diri dari bimbingan wahyu, dapat saja
menggugat, bagimana mungkin kecepatan, bahkan melebihi kecepatan cahaya dapat
terjadi ? bagaimana mungkin tubuhnya tidak rusak disebabkan gesekan panas ?
bagimana mungkin beliau dapat melepaskan diri dari daya tarik Bumi ? tidak
dapat dibuktikan oleh patokan-patokan logika. Kiranya begitu kilah mereka.
Memang pendekatan yang paling tepat adalah pendekatan Imani, begitulah yang
dilakukan oleh Abu Bakar as-Sidiq.
Segala
sesuatu memiliki pendahuluan yang mengantar atau menyebabkanya. Imam as-Suyuthi
berpendapat bahwa pengantar satu uraian dalam A-Qur’an adalah uraian yang
terdapat dalam surat sebelumnya. Menurut al-Baihaqi’ pengantar uraian pristiwa
Isra’ Mi’raj adalah surat an-Nahl (Lebah), mengapa lebah, Karena Lebah
mempunyai keajaiban yang tersirat.”Bersabarlah wahai Muhammad, tidak
kesabaranmu melainkan dengan pertolongan Allah. Janganlah kamu bersedih hati
terhadap (keingkaran) mereka. Jangan pula kamu bersempit dada terhadap apa-apa
yang mereka tipu dayakan. Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan
orang-orang yang berbuat kebajikan (QS 16, 127-128)”.
Setelah
didahului oleh bebrapa ayat sebelumnya maka Allah SWT menceritkan kisah Isra’
Mi’raj Nabi Muhammad SAW, melalui ayat dibawah ini :
“Maha suci Allah SWT, yang memperjalankan
hambanya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah kami
berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda
(kebesaran) kami. Sesungguhjjnya dia adalah maha mnedengar lagi Maha
mengetahui.”(QS.Al-Isra’(17);1).
Isra’
Mi’raj adalah perjalan Ruh dan Jasad serta dalam keadaan terjaga (tidak tidur)
dengan alasan sebagai berikut: kata bi ‘abd (hamba) menunjukan manusia
yang terdiri atas jasad dan ruh, jasad tanpa ruh mayat, sedangkan ruh tanpa
jasad tidak bisa disebut sebagi hamba/manusia, jika Isra’ Mi’raj dilakukan
dengan ruh saja, niscaya dalam QS. AL-Isra’ (17):1 tersebut akan diungkapkan
dengan bi ruhi (dengan ruh hambanya); dalam QS. al-Najem (53);11
disebutkan : Pengelihatan (Mumammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya
dan tidak (pula) melampauinya, ini menunjukan bahwa Nabi Muhammad SAW
benar-benar melihat tanda-tanda kekuasaan dan kesesaran Allah SWT dengan
segenap kesadarannya, sehingga tidak mungkin pengelihatanya keliru. Wahbah
Zuhaily dalam Tafsir al-Munir, Nabi Muhammad melakukan perjalanan tersebut
sebagai satu kesatuan jasad dan ruh, sebagai intrupsi dari kata bi’abdi, kata
abdun disitu adalah sebuah kasatuan jasad dan ruh (Zuhaily, 1418).
Perjalanan
Isra’ Mi’roj adalah perjalanan luar
biasa, sehingga Nabi Muhammad SAW hatinya dibersihkan, bukan berarti
hatinya kotor, tetapi agar hatinya besih diatas bersih, kendaraan yang beliau
naiki adalah Buroq, dalam waktu yang sangat pendek dan jarak yang sangat jauh,
beliau mampu menempuhnya hanya dalam waktu yang kurang lebih dua pertiga malam,
beliau dapat mengumpulkan antara zaman lampau, zaman sekarang dan zaman akan
datang (al-Ghaithy, 2000). Isra’ dimulai dari Masjidil Haram (Mekah) menuju
Masjidil Aqso (Palestina), ditengah perjalanan Isra’, beliau berhenti di
Thoybah (nama lain dari Madinah), untuk menunaikan sholat, berhenti di Madyan,
beliau sholat disebelah pohon dimana dulu Nabi Musa bernaung saat dikejar Fir’aun,
di Bukit Tur Sina tempat Nabi Musa berdialog dengan Allah SWT.
Perjumpaanya
tidak cukup itu saja, beliau melihat panorama, kaum yang menanam benih langsung
tumbuh besar dan memanen, begitu dipanen tumbuh dan langsung penen, begitu
terus menerus, mereka adalah Fi Sabililah, kebaikannya dilipatgandakan 700
kali. Mencium semerbak harum Dewi Masyitoh, pembantu Fir’aun yang beriman
kepada Allah SWT, melihat orang memukul kepalanya sendiri dengan batu besar hingga
hancur, kembali sedia kala, dihatam lagi dan tumbuh lagi, begitu seterusnya,
mereka adalah orang yang malas melakukan kewajiban sholat, melihat kaum dengan
hidangan daging bagus tapi mereka lebih memilih daging busuk, mereka
orang-orang yang sudah beristri tetapi lebih suka berzina. Lalu beliau berhenti
di Baitul Maqdis, mengikatkan Buroqnya dipohon kurma, masuk ke Masjid untuk
sholat 2 rokaat, seketika beliau salam, Masjid dipenuhi Ambiya dan Mursalin, untuk
sholat bersama dan beliau menjadi imamnya.
Kelanjutan
dari pristiwa Isra’ adalah Miraj, dari Masjidil Aqso menuju Sidratul Muntaha,
menembus batas-batas langit satu sampai ketujuh, dilangit pertama, berjumpa Malaikat
Ismail (pejaga pintu langit pertama), setelah mendapat izinya, naik kelangit
pertama, bertemu Nabi Adam AS, dilangit kedua bertemu Nabi Isa bin Maryam dan
Nabi Yahya bin Zakariya, langit ketiga bertemu Nabi Yusuf bin Ya’kub, langit
keempat bertemu Nabi Idris AS, langit kelima bertemu Nabi Harun AS, langit
keenam bertemu Nabi Musa AS, langit ketujuh bertemu Nabi Ibrohim AS. Diteruskan
ke Sidrotul Muntaha, ke Telaga Kautsar, masuk ke Surga dan melihat Neraka beserta
penjaganya yang tidak pernah senyum. Keistimewaannya, menjadikan beliau diangkat
ke Sidrotul Mutaha kedua kalinya seorang diri, tanpa Malaikat Jibril, karena
Malaikat Jibril tidak mampu untuk itu, hanya beliau yang mampu berjumpa dengan dzatnya
Allah SWT, perjumpaan dengan Allah, mendapatkan perintahkan untuk sholat 50
waktu, atas keta’dimanya beliau undur diri kembali ke Bumi, dilangit keenam
bertemu dengan Nabi Musa mendapatkan nasehat bahwa umatnya tidak mampu
menunaikan sholat 50 waktu, dengan rasa gembira Nabi bernegosiasi dengan Allah,
naik turun dari langit keenam Sidrotul Muntaha sampai menghasilkan sholat 5
waktu. Setelah segala urusan selesai beliau bersama Buroq, turun kembali ke Mekah
al-Mukaromah.
DAFTAR
PUTAKA
Ghaffar, A. (2010). Isra' Mi'raj
dalam Tafsir bil Ilmi. UIN Syarif Hidayatuullah , 30-45.
Misbakhudin. (t.thn.). Isra' Mi'raj Sebagai Mu'jizat Akal. STAIN
Pekalongan , 10-15.
Kitab Al Anwaarul Bahiyyah
dan Dzikrayaat wa Munaasabaat, karya al-Imam AL Muhadist as-Sayid Muhammad bin
Alwy al- Maliky al Hasany RA


Komentar
Posting Komentar